Lompat ke isi utama

Berita

Bukan Sekadar Pesta, Bawaslu Sebut Pemilu Sebagai Perjuangan Etika Bangsa

Kamis (12/2/2026).

Anggota Bawaslu Puadi dalam Seminar Fisip Universitas Nasiona (Unas) secara daring, Kamis (12/2/2026).

BENGKULU SELATAN – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, Puadi, menegaskan bahwa perhelatan pemilihan umum (Pemilu) seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pesta demokrasi lima tahunan semata. Lebih dari itu, ia menyebut Pemilu sebagai sebuah laboratorium besar yang menguji sejauh mana kekuatan karakter bangsa Indonesia dalam bernegara. Hal ini disampaikannya dalam seminar daring yang diselenggarakan oleh FISIP Universitas Nasional (Unas) pada Kamis (12/2/2026).

Baca Juga: Bawaslu Ajak Ormas dan NGO Jaga Demokrasi 2029, GMH Siap Ambil Peran

Puadi menyoroti bahwa karakter bangsa masih menjadi tantangan fundamental bagi para peserta pemilu dan pemilih di masa depan. Dalam pandangannya, proses politik ini adalah ajang pembuktian moralitas publik. "Ya, laboratorium di mana kita membuktikan kita bisa bersaing secara sehat, kalah dengan anggun, menang dengan rendah hati, dan menerima hasil dengan sportif. Itu perjuangan," tegasnya di hadapan para peserta seminar.

Salah satu hambatan besar yang terus menghantui laboratorium karakter ini adalah praktik politik uang. Puadi menilai bahwa politik uang bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sindrom dari penyakit yang lebih dalam. Masalah ini berakar pada lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai fundamental demokrasi, di mana integritas seringkali tergadai oleh kepentingan jangka pendek.

Baca Juga: Herwyn Malonda Tekankan Integritas dalam Wawancara Calon PAW Bawaslu Pegunungan Arfak

Guna menghadapi tantangan tersebut, Puadi mengibaratkan Pemilu sebagai sebuah gerbang besar yang kekuatannya harus dijaga secara kolektif. Ia menekankan bahwa pondasi gerbang tersebut harus kokoh, engselnya harus dipastikan lancar tanpa hambatan, dan yang paling penting, kunci gerbang tersebut harus tetap berada di tangan pemilik sah kedaulatan, yakni rakyat Indonesia.

Dalam struktur pengawasan, Puadi menjelaskan bahwa Bawaslu beserta seluruh jajarannya memegang peran sebagai "tukang kunci" dan penjaga gerbang. Ia menegaskan bahwa lembaga pengawas tidak pernah berniat menghalangi langkah siapapun untuk berkompetisi dalam kontestasi politik. Namun, Bawaslu berkewajiban memastikan bahwa setiap peserta bermain sesuai dengan aturan main yang telah disepakati bersama demi mewujudkan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas.

Baca Juga: Puadi Dorong Mekanisme Satu Sesi Cepat dan Berkepastian Hukum

Lebih lanjut, Puadi memberikan penekanan pada aspek kesetaraan dalam demokrasi. Bawaslu hadir untuk menjamin bahwa suara seorang nelayan di pulau terpencil memiliki bobot dan nilai yang sama persis dengan suara seorang pengusaha besar di kota metropolitan. Tidak boleh ada diskriminasi dalam bilik suara; semua warga negara memiliki hak yang setara dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Fokus pengawasan Bawaslu juga mencakup perlindungan terhadap kelompok-kelompok yang rentan terabaikan, seperti pemilih perempuan, penyandang disabilitas, dan pemilih muda. Puadi berkomitmen bahwa tidak boleh ada satu pun kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan. Bawaslu akan terus bergerak mengejar setiap praktik politik uang yang merusak kemandirian pemilih serta melawan penyebaran hoaks yang mengotori nalar publik.

Baca Juga: Raport Merah Tata Kelola Keuangan Parpol: Bawaslu Soroti Lemahnya Akuntabilitas

Dalam forum akademik tersebut, Puadi secara khusus mengajak mahasiswa dan insan akademisi untuk mengambil peran strategis. Ia berharap civitas akademika mampu menjadi benteng pertahanan pertama dalam melawan kebodohan dan informasi palsu. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang didapat di bangku perkuliahan harus diimplementasikan menjadi alat analisis kritis untuk mengawal jalannya demokrasi.

Menutup pernyataannya, Puadi melayangkan ajakan kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya peserta seminar, untuk tetap menjaga daya kritis mereka. Kesadaran kolektif akan pentingnya demokrasi yang sehat dianggap sebagai kunci utama bagi kemaslahatan dan keberlanjutan bangsa Indonesia di masa yang akan datang. (Humas Bawaslu Bengkulu Selatan)

Editor: Humas Bawaslu Bengkulu Selatan

Tag
Bawaslu, Puadi, Pemilu 2026, Karakter Bangsa, Politik Uang, Hoaks, Universitas Nasional, Demokrasi Indonesia, Pengawasan Pemilu.